Postingan

Semesta mangkok bumi

  Aku minyak wijen dan dirimu bakmi gurih dalam semesta mangkok bumi yang sampai kapanpun tidak akan berpisah walaupun di rebus kembali.  Cara satu-satunya ya itu.. Kita harus dilahap bersama, diurai bersama dan menjadi manfaat bersama. Walaupun nanti mungkin diriku tidak terlihat atau sedang terlihat akrab dengan suwir ayam, kuah kaldu,pak choi atau bahkan bawang goreng,tetap ingatlah itu!  Aku minyak wijen yang susah melepaskan. Tidak terlihat tapi meninggalkan bau serta rasa yang berani.  Semoga dirimu bisa memahami ini, betapa pedulinya minyak wijen pada bakmi gurih dalam semesta mangkok bumi. 

Sedih yang bergulma

Sedih yang awet Sedih yang bergulma Tidak ada yang berubah Bahkan cerai-berai itu Jumlahnya masih sepadan Hujan frontal atau musim dingin Uap-uap panas,  Bau busuk dan serangga Oh sungguh Sungguh sepi yang usang Sedih yang bergulma Lembab dan berhantu Lama tak terawat  Lama tak dikunjungi Sedih yang awet Sedih yang purba Jasad-jasad benci terurai sempurna Kuman-kuman dan mahluk mikro lain Hal ini semakin menambah-nambah Gulma yang awet Gulma-gulma kesedihan Pogung, 9 April 2021 07: 13 WIB

Genggam

 Genggam puisiku. Tikam ke jantungmu sampai segala cemas luruh jadi kue tart dibelah tujuh. Sayat ke nadimu sampai lilinnya meleleh tepat di hari ulang tahunmu kunyahlah riuh dendam di dadamu. Kunyah, Alana. Kuaminkan kebatilanmu. Di  dunia ini bulan tidak selalu diambil dari tangan ibu. Genggam puisiku. Ikat di pagar rumahmu sampai sepi yang seram berubah wujud menjadi rindu paling nyata Peterongan, 6 April 2021 22:50 WIB

Merayakan Dingin

 Hari ini Di kursi panjang itu Aku merayakan teh manis  dengan cerah yang labil Hari ini Rambutan  di dekat pintu itu Merayakan musim bunga Dengan perasaan yang tidak seragam Kue bolu yang sok manis Entah kemarin atau baru matang Sejak perayaan mulai lima menit lalu Aku tidak melihatnya dibutuhkan Plastik-plastik itu justru membuatnya tidak menarik Dan perlahan ditinggalkan Uap-uap pergi Aroma manis itu tidak ada apa-apanya Jika dibanding dengan liar angin penghujan Kasihan.  Bahkan sampai akhir bolu ini, Aku,  Atau bahkan seluruh perayaan ini  Semua hanya untuk dingin Dan sepi-sepi yang cepat beku.  Pogung, 7 Februari 2020 14:50 WIB

Bilik

 Bilik untuk mengaku segala buruk terbuka, setiap manusia berbaris menahan tangis. Entah bagaimana harus mengungkap gelap gulita, ketika dilapisi begitu banyak beton baja.  Kikuk, semua manusia itu kikuk; bilik terbuka-giliranku, Aku, merobek bola mata, untuk mengeluarkan kata-kata, “spada, dengan siapa disana?” Aku melihat —melihat dengan batin. Bilik ini ada bahkan di setiap hati mahluk yang bernyawa— diriku di dalamnya, duduk kendur di meja makan. Bilik ini tidak terlalu lega, tapi cukup untuk dimasuki lusinan masalah mentah yang siap diolah jadi senyum yang lezat atau obat-obat pereda sedih.  Seingatku, tidak banyak yang dibicarakan oleh aku yang lain waktu itu. "Apa rencanamu selanjutnya?" Singkat, ketus, dan terkesan sok tahu.  Aku berdiri dan memandanginya sinis, berputar dengan satu hingga dua gerakan mantap dan berjalan. Dalam hati: "Sialan! Dia bahkan tidak bertanya kabarku. Dasar congkak!" Aku yang aku keruh, apa yang harus diperbuat selanjutnya? Aku yang...

Sepi yang berangasan

Diantara kebencian Sayup sayup terdengar Retakan retakan Girang kuaci Taplak meja hijau Dengan perasaan yang berantakan Tempat dimana Pekerjaan ditinggalkan Di rumah yang angker ini Yang senyap ini Yang berdebu Kita semua  Sepi yang berangasan (Sleman, 25 Agustus 2020)

Bunga

Manusia mempunyai ciri-ciri  sebagaimana bunga dengan mahkotanya yang warna-warni.  Kamu polos.  Indah dengan segala bentuk kelopaknya.  Harum dengan aroma khas yang tidak mengancam. Pesanku satu Jangan lenyap seperti edelweis  Yang abadi tapi perlahan mati karena dilupakan.  Hiduplah dalam kenangan kenangan.