Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Waktu yang tepat untuk bersedih

Tidur dan kesedihan hanya akan jadi dua kemungkinan, bantal yang sembab karena air mata, atau mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Aku memilih jadi insomnia. Karena malam adalah waktu yang tepat untuk bersedih. Lewat tengah malam, 31 Mei 2020 1:22 WIB

Kotonoha no Niwa (言の葉の庭)

(1)  なるかみの, すこしとよみて, さしくもり, あめもふらぬか, きみをとどめむ [Sambaran petir yang samar, Mendungnya langit, Berharap turun hujan. Inginkah engkau di sini bersamaku?] Man'yōshū, Book 11, verse 2,513  (2)  なるかみの,すこしとよみて, ふらずとも, われはとまらむ, いもしとどめば [Sambaran petir yang samar, Meski hujan tak kunjung turun, Aku tetap di sini, Bersama dirimu.] Man'yōshū, Book 11, verse 2,514 Inilah Tanka (bentuk puisi jepang) yang saya dapatkan dari film animasi Jepang, Kotonoha no Niwa (言の葉の庭) atau The Garden of Words. Saya sangat menyukainya. 

Bening

Benar adanya jika ruh itu serupa prajurit Jiwa - jiwa yang senada akan berkumpul tanpa satupun berusaha mendominasi.  Ini sangat sehat.  Karena mahakarya pertemanan kita punya pola dan warna yang serasi.  Tidak juga merah.  Dan biru yang tajam.  Kita berbaur hingga bening.  Serupa cahaya yang tegas kebawah.  Melewati ventilasi kamar,  dan sedikit bergetar ketika kasurku  dihempas-hempas.  Normal yang lama, 27 Mei 2020 14:10 WIB Dibuat untuk perkumpulan kita, malam yang berkah. 

Propaganda hari rindu

Rindu (adalah desah napas keluhan dari mahluk yang kesepian, cinta dari dunia yang tak punya cinta, waktu dari kondisi yang tak berwaktu.) Ia adalah candu bagi masyarakat. 23 Mei 2020, 0:01 WIB Teringat Karl Marx, karena kemarin ulang tahun PKI. Menurut berita ada yang mau membuat propaganda, mungkin itu aku. Karena hari ini tepat 56 hari kita tidak bertemu. Propaganda hari rindu. 

Tidak waras

Tempat ini begitu indah agaknya, karena beberapa tanda alam sering meminta atensi lebih terhadapku. Seakan-akan aku idola mereka disini, yang akan segera pergi dan tidak akan kembali. Mereka mencoba menanamkan kenangan-kenangan rutin sehingga dapat diingat persis oleh idolanya yaitu aku. Misalnya Angin, ia terlihat beberapa kali mencoba untuk mencuri perhatianku lewat hembus ceritanya yang selalu sejuk dan senandungnya yang ribut. Aku tetap tidak peduli. Begitu juga ombak-ombak sialan, mereka yang paling usil disini. Bagaimana tidak? Tanpa aba-aba mereka berteriak hendak mengagetkanku.  "djluuuaarrsseess! djluuuaarrsseess!!" "Hessss buummzz!" Selalu saja dan selalu saja itu berhasil membuat jantungku hampir copot. Matahari. Berapi-api selalu ketika ombak dan angin berinteraksi denganku. Dia adalah mahluk paling pemalu dan pencemburu. Tapi lewat diamnya yang hangat, aku jadi sering memperhatikannya. Ah, tapi apadaya, keindahan hanya berarti kesunyian tanpa dirimu kek...

Buih-buih

Beruntungnya mereka, yang serupa telaga Dicintai dan akan selalu mencintai, Bunga-bunga. Tanpa terkecuali. Yang kemudian mati hanya karena waktu  dan mengering bersama. Sialnya aku, dan semua yang serupa samudra. Mencintaimu, dan dicintai hanya oleh sepi. Tanpa terkecuali. Yang kemudian mati hanya karena waktu Dan menyisakan buih-buih Di atas kasur, 17 Mei 2020 1:04 WIB

Cinta boleh disebut biasa saja

Diujung gurun selalu ada laut. Tempat bermuara pertemuan-pertemuan.  Masalah kemanusiaan menjadi komoditi utama disana. Begitu juga bulu hewan, kain sutera dan tanaman petani yang layu. Tempat ini juga banyak tabib-tabib yang hebat, tidak jarang mereka mengobati beberapa masalah seperti kesedihan dan iri dengki. Sangat manjur.  "Maaf bapak, apakah ada solusi untuk  jatuh cinta? "  Tanyaku.  " Sihir selalu ciut ketika bertemu cahaya-cahaya, nak. " Katanya.  Akhirnya aku membungkus beberapa sinar bulan untuk di rumah.  " Kenapa bukan bintang? toh dia lebih terang."  Katamu.  " Aku tidak mau kehilangan sihirmu, kekasih. Tapi aku ingin menurunkan pengaruhnya jadi biasa saja." Mulai saat itu, pelangi terbit diantara gelap malam.  Dan cinta boleh disebut biasa saja. 

Malam bukanlah malam

Malam bukanlah malam. Jika bayangan tengah putih, dan bintang pun kesepian. Tanpa dingin yang mengiringi. Malam bukanlah malam Jika purnama tengah sedih, dan samudera pun sunyi. Tanpa pasang surut perasaan. Jombang, 10 Mei 2020 0 :34 WIB

Umpatan

Anjing!!!  Aku jatuh cinta.  Depan TV, 9 Mei 2020

Flora paling liar

Pernahkah kalian merindukan tanaman? Kekasihku pernah. Ditengah belantara dia menjelma orang paling perindu, Dengan lima puluh jenis kesukaan. Termasuk aku. Flora paling liar. Dengan cinta paling sunyi. Meja makan, 5 Mei 2020 3:47 WIB

Aku akan membawamu

Aku akan membawamu Kepada pemandangan-pemandangan Dengan biru air Dan awan yang hebat Aku akan membawamu Kepada pemandangan-pemandangan Dengan Hamparan angin Dan bunga-bunga yang bergerak  Aku akan membawamu Kepada pemandangan-pemandangan Dengan siul burung Dan cahaya mengintip pada celah tajuk pohon Aku akan membawamu Kepada pemandangan-pemandangan Dengan senja Dan perasaan cinta Aku akan membawamu Kepada pemandangan-pemandangan Dengan lengkapnya bintang jatuh Dan sempurna denganmu Bangun tidur, 4 mei 2020 2 :35 WIB

Kotak kecil

Jarak ini tak berarti jika Terik masih sama Begitu juga ungu Dan Kotak kecil didepanmu Kamar, 3 Mei 2020 2:24 WIB

Perihal kamu

Bintang adalah objek favorit Bagi setiap pengagum angkasa Seperti halnya kamu Yang selalu mencari Diantara aroma timun yang menyeruak Dalam setiap pertemuan Semangka adalah segar Ketika lele goreng menjelma obat-obat Untuk semua yang mudah lupa Sangat menyenangkan Ketika aku tahu Semestamu terbuat dari jelly Dan semua hal yang manis Kue apang lawawoi Rumah, 30 April 2020 13 :19 WIB

Bebayang

Ada sosok bercahaya, Di belakang malam itu. Bayang-bayang indah, Tapi tetap hitam Mungkin itu kamu. Purnama yang lupa, Dan mengacaukan semua samudera. Dalam gelapnya Kamu adalah percakapan-percakapan Yang selalu ingin kubicarakan Rumah, 30 April 2020 19 :31WIB

Cerahmu

                           Cerahmu semacam dingin         Yang paling angin Cerahmu semacam sepi Yang paling lantang Cerahmu semacam awan     Yang paling hilang            Cerahmu semacam rindu                                   Yang paling mungkin Ruang tengah, 2 Mei 2020 0 :41 WIB

Putaran Semesta

Badai pasir Mengundang pesta lumba-lumba pasukan angkasa juga turun, sehingga samudera penuh atas bawah Zebra. berjalan sendiri Diantara danau purba. Kemudian hujan datang, dan mekar ribuan flamingo yang sebelumnya adalah hitam Matahari terbit, saatnya menguatkan kaki-kaki anak wildebeest menari di hamparan padang garam yang berbunga awan menyerupai roti, saat anjing hutan kelaparan. lalu muncul konflik. Debupun lari, Bermigrasi. hingga menjadi badai pasir. Peterongan, 30 April 2020 5:18 WIB