Tidak waras
Tempat ini begitu indah agaknya, karena beberapa tanda alam sering meminta atensi lebih terhadapku. Seakan-akan aku idola mereka disini, yang akan segera pergi dan tidak akan kembali. Mereka mencoba menanamkan kenangan-kenangan rutin sehingga dapat diingat persis oleh idolanya yaitu aku. Misalnya Angin, ia terlihat beberapa kali mencoba untuk mencuri perhatianku lewat hembus ceritanya yang selalu sejuk dan senandungnya yang ribut. Aku tetap tidak peduli. Begitu juga ombak-ombak sialan, mereka yang paling usil disini. Bagaimana tidak? Tanpa aba-aba mereka berteriak hendak mengagetkanku.
"djluuuaarrsseess! djluuuaarrsseess!!"
"Hessss buummzz!"
Selalu saja dan selalu saja itu berhasil membuat jantungku hampir copot. Matahari. Berapi-api selalu ketika ombak dan angin berinteraksi denganku. Dia adalah mahluk paling pemalu dan pencemburu. Tapi lewat diamnya yang hangat, aku jadi sering memperhatikannya.
Ah, tapi apadaya, keindahan hanya berarti kesunyian tanpa dirimu kekasih. Aku selalu membayangkan wajahmu, girang dan tertawa melihat semua yang ada disini. Aku janji suatu saat pasti, aku akan mengenalkanmu pada semua. Bahkan pada nama tiap butir pasir, tidak akan terlewat walau barang sebiji. Tapi awas polisi suka menangkap manusia disini. Menangkap semua manusia yang menurut mereka tidak waras. Termasuk aku.
Rabu, 20 Mei 2020 23:06 WIB
Dibuat dalam rangka perbaikan karya temanku.
Komentar
Posting Komentar