Genggam puisiku. Tikam ke jantungmu sampai segala cemas luruh jadi kue tart dibelah tujuh. Sayat ke nadimu sampai lilinnya meleleh tepat di hari ulang tahunmu kunyahlah riuh dendam di dadamu. Kunyah, Alana. Kuaminkan kebatilanmu. Di dunia ini bulan tidak selalu diambil dari tangan ibu. Genggam puisiku. Ikat di pagar rumahmu sampai sepi yang seram berubah wujud menjadi rindu paling nyata Peterongan, 6 April 2021 22:50 WIB
Hari ini Di kursi panjang itu Aku merayakan teh manis dengan cerah yang labil Hari ini Rambutan di dekat pintu itu Merayakan musim bunga Dengan perasaan yang tidak seragam Kue bolu yang sok manis Entah kemarin atau baru matang Sejak perayaan mulai lima menit lalu Aku tidak melihatnya dibutuhkan Plastik-plastik itu justru membuatnya tidak menarik Dan perlahan ditinggalkan Uap-uap pergi Aroma manis itu tidak ada apa-apanya Jika dibanding dengan liar angin penghujan Kasihan. Bahkan sampai akhir bolu ini, Aku, Atau bahkan seluruh perayaan ini Semua hanya untuk dingin Dan sepi-sepi yang cepat beku. Pogung, 7 Februari 2020 14:50 WIB
Sedih yang awet Sedih yang bergulma Tidak ada yang berubah Bahkan cerai-berai itu Jumlahnya masih sepadan Hujan frontal atau musim dingin Uap-uap panas, Bau busuk dan serangga Oh sungguh Sungguh sepi yang usang Sedih yang bergulma Lembab dan berhantu Lama tak terawat Lama tak dikunjungi Sedih yang awet Sedih yang purba Jasad-jasad benci terurai sempurna Kuman-kuman dan mahluk mikro lain Hal ini semakin menambah-nambah Gulma yang awet Gulma-gulma kesedihan Pogung, 9 April 2021 07: 13 WIB
Komentar
Posting Komentar